Selasa, 21 Januari 2020

Tutorial Membuat Motion Shape



TUTORIAL MEMBUAT MOTION SHAPE

Hallo Animaa… apa kabar nih? Seneng sekali aku bias balik lagi berbagi informasi dan ilmu bersama kalian semua. Kalau sebelumnya kita sudah membuat beberapa animasi dasar. Sekarang aku mau share sama kalian tentang cara membuat Tween Shape. Nah Tween Shape berguna menganimasikan objek berjenis shape tanpa harus merubahnya menjadi symbol. Jadi gak perlu repot-repot merubahnya ke symbol dengan tools Tween Shape kita bias membuat gambar berubah seperti animasi bergerak. Wah… seru kan? Baik, langsung saja kita masuk ke tahapan-tahapannya.  
Berikut ini adalah contoh sedeharnanya :

1.   Pertama buka aplikasi Macromedia Flash 8 dan pilih Langkah pertama, kalian buka aplikasi Macromedia Flash 8, lalu akan muncul tampilan dibawah ini. Setelah itu kalian pilih Flash Document pada Create New. 
Gambar 1. Tampilan aplikasi Macromediaflash

2.  Pada frame pertama kita buat sebuah objek lingkaran dengan menggunakan Oval Tool. (kalian             bisa memilih objek atau bentuk apa saja ya, tidak harus lingkaran.

Gambar 2. Tampilan frame 1



3.   Kemudian pada frame 20  buatlah sebuah keyframe.


4.   Setelah itu pada frame 20 yang telah kita buat sebuah key frame, kita hapus dengan cara klik frame 20 kemudian tekan Delete pada keyboard.
5.     Setelah keyframenya kosong kita buat sebuah objek persegi pada frame 20 tersebut. 

Gambar 3. Tampilan frame 20



6.      Kemudian pada  frame 45 buatlah keyframe
7.      Setelah itu pada frame 45 yang telah kita buat sebuah key frame, kita hapus dengan cara klik frame 20   kemudian tekan Delete pada keyboard.
8.      Setelah keyframenya kosong kita buat sebuah objek segitiga  pada frame 45 tersebut.


Gambar. 4 Tampilan frame 45

9.     




Klik frame 1 lalu buka panel properties (tekan CTRL+F3). Ubah Tween dari None menjadi  Shape. Selanjutnya lakukan hal serupa di frame kedua. 



Gambar. 5 Tampilan Properties

10. Kemudian jalankan animasi dengan tekan CTRL+Enter
      
Gimana Anima? Seru kan?. Pastinya dong…. Selamat mencoba dan berkreasi dengan kreativitas masing-masing. 






Tutorial Belajar Animasi frame by frame


Hallo sahabat Anima. Pada artikel pertama ini Aku ingin membagikan informasi mengenai dasar-dasar membuat animasi yang sederhana. Nah kali ini kita kana membuat animasi frame by frame. Jika kalian berfikir teknik animasi hanya dapat dipelajari oleh Mahasiswa Komputer atau design saja itu salah ya. Teknik animasi ini bisa dipelajari oleh siapapun dan mahasiswa semua fakultas karena di era digital ini informasi dapat disajikan dengan sesuatu yang lebih menarik dan interaktif salah satunya melalui teknik animasi dasar yanga kan kita pelajari saat ini. Baiklah tanpa berlama-lama materi pertama yaitu membuat animasi frame by frame. Ini mudah untuk membuatnya, hanya perlu membuat objek yang berbeda-beda pada setiap framenya. Tapi semakin banyak frame yang kita gunakan maka .swf yang kita buat akan berjalan lambat. Berikut hanya sekedar contoh saja, teman-teman bisa membuatnya lebih bagus dari ini.

1.      Pertama buatlah 5 frame pada timeline


Gambar pada tampilan timeline                             

2.   Pada frame 1 kita buat objek lingkaran menggunakan tools ellips seperti gambar di letakan di kiri bawah sebagai letak titik pantulan pertama seperti bawah ini:



 


Gambar pada frame 1

  3.  Pada frame 2 kita buat objek untuk posisi kedua seperti gambar di bawah ini:


 

Gambar pada frame 2

4. Pada frame 3 kita buat objek seperti gambar dibawah ini seperti seolah-olah memantul ke atas



Gambar pada frame 3

5. Pada frame 4 kita buat objek jatuh ke bawah seperti gambar di bawah ini

Gambar pada frame 4

6. Pada frame 5 kita buat objek seolah-olah memantul keatas setelah jatuh dipermukaan seperti gambar di bawah ini:


Gambar pada frame 5

7. Selanjutnya, kalian gunakan tween disetiap frame agar pergerakan halus, caranya dengan mengklik kanan di frame lalu klik create motion tween.

8. Langkah terakhir test movie dengan menekan CTRL+ENTER.

Nah, Bagaimana? Mudahkan? Hasil dari projek ini yaitu seolah-olah bola tersebut memantul keatas-kebawah. Sebelum kalian mempraktikannya mungkin sedikit sulit namun setelah membaca artikel ini coba kalian langsung mempraktikannya ya. Selamat mencoba. Terima kasih sudah membaca. Salam Animaaa…..

berikut contoh project akhirnya yaa...


­­


Senin, 17 April 2017

TEORI DISONANSI KOGNITIF (LEON FESTINGER)



COGNITIVE DISSONANCE THEORY
(Teori Disoansi Kognitif)
Of Leon Festinger

1.      Latar Belakang
Teori Disonansi Kognitif diperkenalkan oleh Leon Festinger pada tahun 1957 (Shaw & Contanzo, 1985) dan berkembang pesat sebagai sebuah pendekatan dalam memahami area umum dalam komunikasi dan pengaruh social (Festinger, 1957).
Teori disonansi kognitif menjadi salah satu penjelasan yang paling luas yang diterima terhadap perubahan tingkah laku dan banyak perilaku sosial lainnya. Teori ini telah digeneralisir pada lebih dari seribu penelitian dan memiliki kemungkinan menjadi bagian yang terintegrasi dari teori psikologis sosial untuk bertahun-tahun (Cooper & Croyle, 1984, dalam Vaughan & Hogg, 2005).
           Sebenarnya kata disonansi kognitif merupakan perasaan yang tidak seimbang, ketika mereka menemukan diri mereka sendiri melakukan yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui atau mempunyai pendapat yang tidak sesuai dengan pendapat lain yang mereka pegang (1957:4). Konsep ini membentuk inti dari Teori Disonansi Kognitif (Cognitive Dissonance Theory-CDT) Festinger, teori ini berpendapat bahwa disonansi adalah sebuah perasaan tidak nyaman yang memotivasi orang untuk mengambil langkah demi mengurangi ketidaknyamanan itu.
 Menurut Roger Brown (1965), dasar dari teori ini mengikuti sebuah prinsip yang cukup sederhana “Keadaan disonansi kognitif dikatakan sebagai keadaan ketidaknyamanan psikologis atau ketegangan yang memotivasi usaha-usaha untuk mencapai konsonansi. Disonansi adalah sebuah sebutan untuk ketidakseimbangan dan konsonansi adalah sebutan untuk keseimbangan.  Menurut Browns dua elemen memiliki untuk memiliki tiga  hubungan yang berbeda satu sama lain diantaranya, Hubungan Konsonan (Consonant Relationship),  Hubungan Disonan (Dissonant Relationship), dan Tidak Relevan (Irrelevant).
            Hubungan Konsonan (consonant relationship) ada dua elemen ketika dua elemen tersebut ada pada posisi seimbang satu sama lain. Hubungan disonan (dissonant relationship) berarti bahwa elemen-elemennya tidak seimbang satu dengan lainnya. Maksudnya tidak ada sinergis antara pemikiran dan perbuatan. Hubungan relevan (tidak irrelevant) ada ketika elemen-elemen tidak mengimplikasikan apa pun mengenai satu sama lain.
            Pentingnya disonansi kognitif bagi peneliti komunikasi ditunjukkan dalam pernytaan Festinger bahwa ketidaknyamanan yang disebabkan oleh disonansi akan mendorong terjadinya perubahan. Paradigm ini berparadigma positivistik/objektif.
2.      Asumsi Teori Disonansi Kognitif
Teori kognitif disonansi adalah menjelaskan mengenai keyakinan dan perilaku mengubah sikap. Teori ini berfokus pada efek inkonsistensi yang ada diantara kognisi-kognisi. Ada empat asumsi dasar dari teori ini :
1.       Manusia memiliki hasrat akan adanya konsistensi pada keyakinan, sikap dan perilakunya.
Penjelasan : menekankan sebuah model mengenai sifat dasar manusia yang mementingkan adanya stabilitas dan konsistensi. Teori ini menyatakan bahwa orang tidak akan menikmati inkonsistensi dalam pikiran dan keyakinan mereka. Sebaliknya, mereka akan mencari konsistensi.
2.      Disonansi diciptakan oleh inskonsistensi psikologis.
Penjelasan : berbicara mengenai jenis konsistensi yang penting bagi orang. Teori ini tidak berpegang pada konsistensi logis yang kaku. Sebaliknya teori ini merujuk pada fakta bahwa kognisi-kognisi harus tidak konsisten secara psikologis (dibandingkan tidak konsisten secara logis).
3. Disonansi adalah perasaan tidak suka yang mendorong orang untuk melakukan
    tindakan-tindakan dengan dampak yang dapat diukur.
Penjelasan : menyatakan bahwa ketika orang mengalami inkonsistensi psikologis disonansi tercipta menimbulkan perasaan tidak suka jadi orang tidak senang berada dalam keadaan disonansi, hal itu merupakan suatu keadaan yang tidak nyaman.
4. Disonansi mendorong usaha untuk memperoleh konsonansi dan usaha untuk
     mengurangi disonansi.
Penjelasan : untuk menghindari situasi yang menciptakan inskonsistensi dan berusaha mencari situasi yang mengembalikan konsistensi. Jadi, gambaran akan sifat dasar manusia membingkai teori ini adalah sifat dimana manusia mencara konsistensi psikologis sebagai hasil rangsangan yang disebabkan oleh kondisi ketidaksenangan terhadap kognisi yang tidak konsisten.  
3.      Konsep-Konsep Teori Disonansi Kognitif
Ketika teoretikus disonansi berusaha untuk melakukan prediksi seberapa banyak ketidaknyaman atau disonansi yang dialami seseorang, mereka mengakui adanya konsep tingkap disonansi. Tingkat disonansi (magnitude of dissonance) merujuk kepada jumlah kuantitatif disonansi yang dialami oleh seseorang. Tingkat disonansi akan menentukan tindakan yang akan diambil seseorang dan kognisi yang mungkin ia gunakan untuk mengurangi disonansi. Teori CDT membedakan antara situasi yang menghasilkan lebih banyak disonansi dan situasi yang menghasilkan lebih sedikit disonansi.

·         Tingkat Disonansi
  Tiga faktor yang dapat mempengaruhi tingkat disonansi yang dirasakan seseorang:
1) Tingkat kepentingan (importance), faktor dalam menentukan tingkat
       disonansi  merujuk pada seberapa signifikan masalah itu.
2) Rasio disonansi (dissonance ratio), faktor dalam menentukan tingkat
      disonansi merupakan jumlah kognisi konsonan berbanding dengan yang
      disonan.
3) Rasionalitas (rationale) yang digunakan individu untuk menjustifikasi
      inkonsistensi. Faktor ini merujuk pada alasan yang dikemukan untuk
      menjelaskan mengapa sebuah inkonsistensi muncul. Makin banyak alasan
      yang dimiliki seseorang untuk mengatasi kesenjangan yang ada, maka
      semakin sedikit disonansi yang seseorang rasakan.
·         Mengatasi Disonansi
Meskipun teori disonansi kognitif menjelaskan bahwa disonansi dapat dikurangi baik melalui perubahan perilaku maupun sikap, kebanyakan penelitian difokuskan kepada sikap. Banyak cara untuk meningkatkan konsistensi didasarkan pada kognisi. Meskipun CDT menjelaskan bahwa disonansi dapat dikurangi baik melalui perubahan perilaku maupun sikap, kebanyakan penelitian difokuskan pada sikap, yaitu :
1) mengurangi pentingnya keyakinan disonansi kita
2) menambahkan keyakinan yang konsonan,
3) menghapuskan disonansi dengan cara tertentu.


·         Disonansi Kognitif dan Persepsi     
Secara spesifik, Teori Disonansi Kognitif berkaitan dengan proses pemilihan terpaaan (selective exposure), pemilihan perhatian (selective attention), pemilihan interpretasi (selective interpretation), dan pemilihan retensi (selective retention) karena teori ini memprediksi bahwa orang akan menghindari informasi yang meningkatkan disonansi. Proses perseptual ini merupakan dasar dari penghindaran ini.
Terpaan selektif (selective exposure), metode untuk mengurangi disonansi dengan mencari informasi yang konsonan dengan keyakinan dan tindakan yang ada saat ini.
Perhatian selektif (selective attention), metode untuk mengurangi disonansi dengan memberikan perhatian pada informasi yang konsonan dengan keyakinan dan tindakan yang ada saat ini.
 Interpretasi selektif (selective interpretation), metode untuk mengurangi disonansi dengan menginterpretasikan informasi yang ambigu sehingga informasi  menjadi konsisten dengan keyakinan dan tindakan yang ada saat ini.
Retensi selektif (selective retention), metode untuk mengurangi disonansi dengan mengingat informasi yang konsonan dengan keyakinan dan tindakan yang ada saat ini.
·         Justifikasi Minimal
Menawarkan jumlah insentif paling kecil yang dibutuhkan untuk mendapatkan persetujuan. Festinger (1975) berpendapat bahwa “jika seseorang berkeinginan untuk memperoleh perubahan pribadi selain persetujuan publik, cara terbaik untuk melakukannya adalah menawarkan cukup penghargaan atau hukuman untuk memperoleh persetujuan.”
·         Teori Disonansi Kognitif dan Persuasi
Banyak penelitian berkonsentrasi pada disonansi kognitif sebagai fenomena pasca pengambilan keputusan. Beberapa studi mempelajari mengenai penyesalan pembeli (a buyer’s remorse),  yaitu disonansi yang sering dialami seseorang setelah memutuskan suatu pembelian yang besar. Kajian yang menarik mengenai penyesalan pembeli berhubungan dengan pembelian kendaraan bermotor (Donnely & Ivancevich, 1970).


4.      Kritik Teori Disonansi Kognitif
Meskipun para peneliti telah menggunakan dan merevisi teori Festinger sejak 1957, dan beberapa ilmuwan menekankan bahwa teori ini merupakan prestasi utama dari bidang psikologi social . teori ini juga memiliki kelemahan dan kritikan.
Satu kelemahan berhubungan dengan komplen para kritikus bahwa disonansi mungkin bukan merupakan konsep yang paling penting untuk menjelaskan perubahan sikap. Contohnya, bebrapa peneliti percaya bahwa kerangka teoritis lain dapat menjelaskan peribahan sikap yang dotemukan oleh Festinger dan Carlmith (1959) dalam eksperimen satu dolar/dua puluh dolar.
Irving Janis dan Robert Gilmore (1965) berpendapat ketika orang berpartisipasi dalam inkonsistensi ,seperti berdebat mengenai sebuah            posisi yang tidak mereka yakini, mereka menjadi termotivasi untuk memikirkan kembali semua argument yang mendukung posisi tersebut sementara menekan setiap argumen yang tidak mendukungnya. Janis dan Gilmore  menyebut proses ini penyeleksian bias. Proses penyeleksian bias ini ini meningkatkan kemungkinan akan penerimaan posisi baru contohnya, mengubah posisi evaluasi seseorang bahwa menyortir gelondongan merupakan pekerjaan yang membosankan menjadi posisi yang baru yaitu bahwa pekerjaan itu benar-benar pekerjaan yang menarik.