Senin, 17 April 2017

TEORI PERTIMBANGAN SOSIAL (MUZAFER SHERIF)



SOCIAL JUDGMENT THEORY
(Teori Pertimbangan Sosial)
Of  Muzafer Sherif
11.      Latar Belakang Teori
Teori pertimbangan sosial adalah hasil penelitian seorang psikolog yang bernama Muzafer Sherif dari Oklahoma University.  Teori pertimbangan  sosial didasarkan pada penelitian filsafat zaman dulu, dimana orang-orang diuji kemampuannya untuk menilai rangsangan-rangsangan fisik seperti beban suatu objek atau terangnya sebuah cahaya. Bentuk penelitian ini dijadikan perumpamaan oleh sheriff untuk meneliti cara-cara individu menilai berbagai macam pesan, ternyata sherif menemukan prinsip psikofisika yang juga berpegang pada penilaian sosial.
Secara ringkas teori ini menyatakan bahwa perubahan sikap seseorang terhadap objek sosial dan isu tertentu merupakan hasil proses pertimbangan (judgement) yang terjadi dalam diri orang tersebut terhadap pokok persoalan yang dihadapi. Proses ”mempertimba/ngkan” isu atau objek sosial tersebut. Sherif berpatokan pada kerangka rujukan (reference points) yang dimiliki seseorang. Menurut Sherif ada tiga rujukan yang digunakan seseorang untuk merespons suatu stimulus yang dihadapi. Ketiganya merupakan bagian yang saling terkait. Yang pertama disebut latitude of acceptance (rentang atau wilayah penerimaan) yang terdiri dari pendapat-pendapat yang masih dapat diterima dan ditoleransi. Bagian kedua disebut latitude of rejection (rentang penolakan) yang mencakup pendapat atau gagasan-gagasan yang kita tolak karena bertentangan dengan kerangka rujukan kita (sikap dan keyakinan), dan yang terakhir disebut latitude of noncommitment (rentang ketidakterlibatan) yang terdiri dari pendapat atau pesan-pesan persuasif yang tidak kita tolak dan tidak kita terima. Dalam rentang ketidakterlibatan ini kita tidak memiliki opini apa-apa sehingga bersifat netral terhadap pokok permasalahan yang ada.
Disamping ketiga konsep pokok diatas, masih ada satu konsep penting lainnya dari teori yang disebut ego-involevement yakni derajat yang menunjukkan arti penting suatu isu bagi seseorang. Meskipun tiga konsep ”latitude” yang dikemukan teori pertimbangan sosial sudah cukup memadai dalam menjelasakan bagaimana seseorang akan bereaksi terhadap pesan-pesan persuasif namun derajat penting tidaknya suatu stimulus (ego-involvement) akan turut menentukan sejauhmana seseorang dapat dipengaruhi. Dengan kata lain makin berarti suatu isu bagi seseorang maka semakin kecil kemungkinan orang tersebut dapat dipengaruhi. Dalam teori ini juga dijelaskan adanya dua macam efek yang timbul akibat proses menilai atau mempertimbangkan pesan yakni efek asimilasi (assimilation effect) dan efek kontras (contrast effect).
 Efek asimilasi terjadi ketika seseorang menempatkan sebuah pesan persuasif dalam rentang penerimaan dan pesan-pesan tersebut mendekati pernyataan patokan (kerangka rujukan) yang ada. Karena pesan tersebut mendekati pernyatan patokan, maka pesan tersebut akan diasimilasi atau dianggap mirip dengan patokan yang ada dan dijadikan satu kelompok. Asimilasi ini merupakan efek gelang karet, dimana setiap pernyataan baru dapat ”ditarik” mendekati pernyatan patokan sehingga tampak menjadi lebih dapat diterima daripada keadaan sebenarnya. Orang yang menjadi sasaran persuasi akan menilai pesan atau pernyataan tersebut tampak sejalan dengan patokannya. Teori ini berparadigma positivistik.
Pernyataan yang berada dalam rentang penolakan akan tampak semakin berbeda (kontras) dan bertentangan dengan pernyataan patokan meskipun sebenarnya perbedaan tersebut tidak terlalu jauh. Karena kita memperbesar perbedaan maka sebuah pesan yang seolah-olah bertentangan sepenuhnya dengan patokan yang ada. Akhirnya pesan tersebut kita tolak.
22.      Asumsi Teori Pertimbangan Sosial
Teori ini mempelajari tentang proses psikologis yang mendasari pernyataan sikap dan perubahan sikap melalui komunikasi. Asumsi dasarnya bahwa dalam menilai sesuatu, manusia membuat deskripsi dan kategorisasi khusus. Dalam kategorisasi manusia melakukan perbandingan-perbandingan diantara berbagai alternatif yang disusun oleh individu untuk menilai stimulus-stimulus yang datang dari luar. Teori ini mengemukakan bahwa seseorang mengetahui apa sikapnya dan mampu menentukan perubahan sikap apa yang akan diterimanya serta perubahan apa yang akan ditolaknya.
Teori ini menjelaskan kepada kita tentang suatu pesan atau pernyataan diterima atau ditolak itu didasarkan atas peta kognitif kita sendiri terhadap pesan tersebut. Seseorang menerima atau menolak suatu pernyataan atau pesan-pesan tertentu, bergantung kepada keterlibatan egonya sendiri. Ketika orang menerima pesan, baik verbal ataupun nonverbal, mereka dengan segera men-judge (memperkirakan, menilai) di mana pesan harus ditempatkan dalam bagian otaknya dengan cara membandingkannya dengan pesan-pesan yang diterimanya selama ini. Teori ini juga menjelaskan tentang bagaimana individu menilai pesan-pesan yang mereka terima. Ia juga mampu memprediksi bahwa seseorang menerima atau menolak terhadap pesan-pesan yang masuk. Selain itu teori ini juga melahirkan hipotesis-hipotesis baru dan memperluas rentangan pengetahuan seseorang, termasuk kita ketika sedang menerima pesan-pesan, dan juga memiliki kekuatan terorganisir melalui pengorganisasian pengetahuan yang ada di dalam otak kita mengenai sesuatu.

33.      Konsep-Konsep Penting Dalam Teori Pertimbangan Sosial
Konsep-konsep pokok dalam social judgement theory (Teori pertimbangan sosial) adalah:
1. Latitude of acceptance (rentang atau wilayah Penerimaan)
Proses pertimbangan di atas menurut Sherif & Hovland (1961) berlaku baik untuk pertimbangan fisik (misalnya; berat) maupun pengukuran sikap. Walaupun demikian ada dua perbedaan antara pertimbangan terhadap situasi fisik yang bersifat obyektif dengan sikap. Dalam sikap, individu sudah membawa klasifikasinya sendiri dalam menilai suatu obyek dan ini mempengaruhi penerimaan atau penolakan individu terhadap obyek tersebut. Kedua, pertimbangan sosial (sikap) berbeda-beda dari satu individu ke individu yang lain, padahal dalam pertimbangan fisik tidak terdapat variasi yang terlalu besar.
2. Latitute of rejection (rentang Penolakan)
Jika seseorang individu melibatkan dirinya sendiri dalam situasi yang dinilainya sendiri, maka ia akan menjadikan dirinya sendiri sebagai patokan. Hanya hal-hal yang dekat dengan posisinya mau diterimanya. Rentang penolakan yang mencakup pendapat atau gagasan-gagasan yang kita tolak  karena bertentangan dengan kerangka rujukan kita (sikap dan keyakinan).
3. Latitute of noncommitment (rentang keterlibatan)
Rentang ketidakterlibatan yang terdiri dari pendapat atau pesan-pesan persuasif yang tidak kita tolak dan tidak kita terima.

·         Keterlibatan Ego (Ego Involvement)

            Jika Anda pengguna kartu kredit, seberapa penting bunga cicilan 0% bagi Anda? Pertanyaan seperti inilah yang disebut Sherif sebagai konsep ego-involvement. Ego-involvement mengacu pada tingkatan seberapa penting sebuah “tawaran” terhadap kehidupan seseorang. Ego-involvement merupakan kunci utama munculnya latitude of acceptance atau bahkan rejection. Konsep ini dilatarbelakangi dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: “Apakah ini hal utama bagi kita?”, “Apa kita sangat memikirkannya?”, “Apakah sudah sesuai dengan pola hidup kita?”
Ego-involvement menggambarkan kemampuan kognitif seseorang akan suatu isu tertentu. Penulis coba ungkapkan contoh lain misalkan efek rumah kaca karena lapisan ozon yang berlubang. Hal ini mungkin tidak begitu penting bagi kita karena tidak banyak menyinggung sisi kognitif dalam diri kita (low ego involvement). Lain halnya ketika yang diungkap adalah; berlubangnya lapisan ozon menyebabkan sinar UV dapat dengan mudah masuk ke bumi tanpa filter sehingga kemungkinan penyakit kanker kulit dapat dengan mudah menyerang. Isu yang kedua ini akan memunculkan tingkatan ego involvement yang lebih tinggi karena lebih menyentuh pada aspek kognitif kita tentang kepedulian terhadap diri sendiri.
·         Penilaian Pesan : Kontras dan Kesalahan Asimilasi
Di dalam teori ini juga menjelaskan dua macam efek yang timbul akibat proses mempertimbangkan pesan yaitu efek asimilasi dan efek kontras. Efek asimilasi cenderung dapat bisa diterima ketimbang keadaan yang sebenarnya. Masyarakat yang menjadi sasaran persuasi akan menilai pesan atau pernyataan tersebut tampak sejalan dengan patokannya. Sedangkan pernyataan yang berada dalam rentang penolakan akan tampak semakin berbeda karena sebenarnya secara teori kita memperbesar perbedaan dan pada akhirnya pesan dapat ditolak dengan mudah oleh masyarakat.
·         Ketidaksesuaian dan Perubahan Sikap
Dalam Teori penilaian social ini membantu pemahaman kita tentang komunikasi sebagai perubahan sikap. Teori penilaian social juga membantu membuat prediksi perubahan sikap berdasarkan rentang yang ada, yaitu :
 1). Pesan-pesan yang jatuh pada rentang penerimaan cenderung akan mempermudah 
       perubahan sikap.
2). Jika suatu pesan oleh seseorang dinilai terletak dalam rentang penolakan, maka
       perubahan sikap akan berkurang atau tidak ada.
3).  Dalam rentang penerimaan dan rentang non komitmen semakin tidak sesuai suatu  
                   pesan  dengan pendirian/prinsip seseorang, maka akan semakin besar kemungkinan
                   sikap  akan berubah.

44.      Kritik Teori Pertimbangan Sosial
1.    Konsep keterlibatan ego tidak didefinisikan dengan baik. Apakah tingginya ego involvement indikasi dari topik yang penting?,atau itu menunjukkan seberapa sering topik ditemui oleh pendengar?
2.    Kritikus telah mengangkat kemungkinan bahwa lintang tidak benar-benar khusus untuk topik tertentu, tetapi mencerminkan kemampuan umum seseorang mudah dan tidaknya dipengaruhi. Dengan kata lain, orang yang mudah untuk dibujuk akan memiliki garis lintang penerimaan  yang lebih luas dari orang yang sulit untuk dibujuk.






TEORI KONSTRUKTIVISME (JESSE DELIA)



Constructivism
(Teori Konstruktivisme)
Of  Jesse Delia

11.      Latar Belakang Teori
Jesse Delia adalah bekas kepala departemen bagian pidato komunikasi di University of Illinois, sekarang menjadi dekan Pengetahuan Budaya dan Ilmu Pengetahuan di universitas yang sama. Teori Constructivism dikembangkan oleh Delia pada tahun 1982. Delia menggambarkan constructivism sebagai tukang kayu yang mencoba untuk mendirikan atau memperbaiki hubungan di dunia dimana kita hidup.
Inti dari constructivism adalah seseorang akan menggambarkan dunia melalui sistem dari gagasan-gagasan atau apa yang mereka pikirkan sendiri. Gagasan-gagasan atau pikiran-pikiran berupa komponen-komponen kognitif yang dilengkapi atas realita-realita yang ada dalam lingkunganya. Jadi teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu melakukan interpretasi dan bertindak menuirut berbagai kategori konseptual yang ada dalam pikirannya. Menurut teori ini, realitas tidak menunjukan dirinya dalam bentuk yang kasar, tetapi harus disaring terlebih dahulu melalui cara seseorang melihat sesuatu.
            Kita biasanya tidak tahu bahwa penafsiran skema yang kita gunakan untuk membuat pengertian tentang dunia sosial kita. Delia dan Jaringan Peneliti menciptakan Role Category Questionnare (RCQ). RCQ membantu kita masuk kedalam kepala kita, menjelaskan suatu makna. RCQ merupakan sebuah metode penelitian yang menekankan pada kepribadian dan tindakan seseorang dalam mendefinisikan karakter seseorang, bukan secara fisik.

22.      Asumsi Teori Konstruktivisme
            Asumsi dasar dari constructivism adalah bahwa orang-orang akan memahami dunia melalui sistem yang dibentuknya sendiri. Individu yang telah memiliki kedewasaan, dia melihat dunia dari gambaran kehidupan yang ada, dan mampu mengambarkan orang dengan lebih kompleks, bahwa tidak hanya terpaku pada satu sudut pandang saja. Teori ini menjelaskan bahwa orang orang memiliki tingkat pemikiran yng berbeda-beda. Untuk mengukurnya ada yang dinamakan RCQ. RCQ merupakan sebuah metode penelitian yang menekankan pada kepribadian dan tindakan seseorang dalam mendefinisikan karakter seseorang.
33.      Konsep-Konsep Teori Konstruktivisme
·         Role Category Questionnaire Instructions
Teori konstruktivisme  menjelaskan bahwa orang orang memiliki tingkat pemikiran yang berbeda-beda. Untuk mengukurnya ada yang dinamakan RCQ. RCQ merupakan sebuah metode penelitian yang menekankan pada kepribadian dan tindakan seseorang dalam mendefinisikan karakter seseorang.
Delia melakukan pengujian terhadap RCQ dengan mengembangkan kompleksitas kognitif itu berdasar kronologi usia anak yang kemudian secara berurutan pada nilai yang lebih tinggi antara dewasa menuju usia tua. Pada akhirnya menyimpulkan bahwa perbedaan individu antara orang dewasa relatif stabil dari waktu ke waktu. Dia menuliskan bahwa test kepribadian tidak harus digambarkan oleh karakter  lain atau faktor yang tidak berhubungan. Peneliti harus memahami bahwa nilai RCQ itu bebas dari IQ, empati, ataupun kemampuan menulis.
·         Konsep Interpersonal Sebagai Bukti Tentang Kompleksitas Kognitif
Asumsi inti dari konstruktivisme adalah bahwa “orang-orang membuat gagasan tentang dunia melalui system konsep pribadi. Konsep adalah template (contoh) kognitif atau stensil yang kita sesuaikan dengan realita untuk membawa perintah kedalam persepsi kita. Konsep interpersonal adalah template atau stensil kognitif yan kita sesuaikan dengan realita sosial untuk menyusun kesan kita tentang orang. Angket Kategori Peran dirancang untuk menjadikan sampel konsep interpersonal dalam kotak peralatan mental kita yang kita bawa ke tempat pembentukan makna – fungsi pengolahan pusat pikiran kita.. Angkat kategori peran (RCQ) adalah sebuah survey respon bebas yang dirancang untuk mengukur kerumitan kognitif dari persepsi interpersonal seseorang.
Tiga Bagian dari Kompleksitas Kognitif
1. diferensiasi, yaitu ada banyaknya gagasan mengenai kepribadian yang terpisah-pisah digunakan untuk mendeskripsikan seseorang
2. abstraksi, yaitu derajat yang melihat pada tingkah laku yang tampak dalam kaitannya dengan sifat internal, motivasi, dan disposisi (kecenderungan / kecondongan)
3. integrasi, yaitu berkenaan dengan pengakuan dan perdamaian pada kesan-kesan
Indeks Keahlian Persepsi Sosial
Para peneliti yang mengandalkan RCQ sedang mencoba untuk menentukan derajat kompleksitas (kerumitan) kognitif kita ketika kita membentuk kesan tentang orang lain dan menganalisa situasi sosial. Kompleksitas kognitif adalah kemampuan mental untuk membedakan kepribadian yang halus dengan perbedaan perilaku diantara manusia. Mereka yakin bahwa orang yang memiliki rangkaian konsep interpersonal yang besar memilikiketerampilan persepsi yang lebih baik. Seperti yang kita ketahui dalam teori pengolahan informasi sosial Walther, pembentukan kesan merupakan tahap penting yang pertama dalam perkembangan hubungan.
Teoretikus kognitif seperti Delia dan Burleson membedakan antara struktur mental dengan proses mental. Apa yang anda ketahui tentang pengolahan kata di komputer anda dapat membantu anda memahami peran yang berbeda dari struktur dan proses didalam pikiran. Perangkat keras komputer adalah struktur. Apa yang dilakukan oleh perangkat lunak ketika kita memencet tombol fungsi adalah proses.
·         Menilai RCQ  Untuk Diferensiasi Konsep
Walaupun RCQ dapat dinilai dengan cara yang berbeda, namun kebanyakan peneliti konstruktivis memisahkan penjelasan tentang pasangan-pasangan yang disukai dan tidak disukai untuk jumlah diferensiasi konsep. Diferensiasi diartikan sebagai jumlah konsep kepribadian yang berbeda yang digunakan untuk menggambarkan orang yang dipertanyakan.
Kata sifat dan kata keterangan yang hanya memodifikasi tingkatan sebuah karakteristik tidak mencerminkan konsep-konsep lain. Para konstruktivist menganggap jumlah konsep gabungan untuk kedua penjelasan tersebut sebagai indeks kompleksitas kgnitif.
Delia membuat sebuah kasus yang baik untuk validitas mereka. Pernyataannya bahwa kompleksitas kognitif berkembang dengan usia kronologis anak tercermin dalam nilai yang lebih tinggi ketika anak kecil tumbuh besar. Ia juga percaya bahwa perbedaan individu antara orang dewasa seharusnya relatif stabil dari waktu ke waktu.
Yang terakhir, Delia mencatat bahwa sebuah tes kepribadian murni seharusnya tidak diganggu oleh sifat karakter lain atau faktor-faktor luar. Penelitian telah menetapkan bahwa skor RCQ terlepas dari IQ, empati, keahlian menulis, dan ekstroversi.
·         Pesan-Pesan Yang Terpusat Kepada Orang – Sisi Interpersonal
Pesan yang terpusat kepada orang adalah sebuah pesan yang dibuat disesuaikan untuk individu dan konteks tertentu; mencerminkan kemampuan komunikator untuk mengantisipasi respon dan juga menyesuaikan diri. Ketika Delia menggunakan frase ini, pesan yang terpusat kepada orang mengacu kepada pesan-pesan yang mencerminkan kesadaran tentang dan adaptasi terhadap aspek subyektif, afektif dan huungan dari konteks komunikasi. Dengan kata lain, pembicara mampu mengantisipasi bagaimana individu yang berbeda dapat menanggapi sebuah pesan dan menyesuaikan komunikasinya.
Penelitian yang dilakukan oleh Ruth Ann Clark dan Delia tentang anak-anak kelas dua sampai sembilan adalah sebuah prototype penelitian konstruktivist yang menghubungkan pesan yang terpusat kepada orang dengan kompleksitas kognitif. Hal ini terfokus kepada kemampuan anak-anak untuk mengadaptasikan daya tarik persuasive dengan target pendengar yang berbeda. Konstruktivisme berasumsi bahwa adaptasi strategi merupakan keterampilan yang dipelihara dalam segi perkembangan. Sesuai dengan keyakinan mereka, Clark dan Delia menemukan bahwa kualitas pesan semakin baik seiring dengan bertambahnya usia anak. Akan tetapi perbedaan dalam diferensiasi konsep yang bukan disebabkan oleh usia kronologi juga memiliki dampak yang signifikan.
Para ahli yang mengkaji komunikasi menggunakan istilah-istilah yang berbeda untuk menjelaskan kapasitas guna menciptakan pesan-pesan yang terpusat kepada orang: sensitivitas retorika, mengambil peran orang lain, identifikasi, pemantauan diri, kesadaran khalayak, adaptasi pendengar. Apapun kita menyebutnya, penciptaan pesan-pesan yang terpusat kepada orang merupakan sebuah keterampilan komunikasi yang mutakhir. Komunikasi yang mutakhir adalah sebuah pesan yang terpusat kepada orang yang mencapai berbagai tujuan.
Desain pesan logis:
1.      Expresive Desain Logic
Bahasa merupakan media untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan. Mereka hanya berkata apa yang mereka pikirkan dan sakan yang lainya akan mengetahui apa yang mereka pikirkan dan rasakan.
2.      Conventional Design Logic
Komunikasi merupakan sebuah permainan yang dimainkan dengan cara kerja sama, sesuai dengan aturan dan prosedur sosial yang lazim. 
3.      Rhetorical Design Logic
Komunikasi merupakan kreasi dan negosiasi dari pribadi sosial dan situasi. Artinya ketika seseorang menyampaikan gagasannya, mereka mengungkapkan kenyataan-kenyataan sosial yang ada. Teori ini menggabungkan expresiv design logic dan conventional design logis. Menggunakan bahasa yang expresiv namun juga mengikuti aturan yang ada.
·         Produksi Pesan: Menyusun Rencana Untuk Tindakan Berbasis Tujuan
Versi-versi awal dari konstruktivisme tidak dapat menetapkan alasan mengapa diferensiasi konsep yang tinggi biasanya mengarah kepada komunikasi yang lebih efektif. Produksi pesan adalah sebuah proses tiga tahap yang terdiri atas penilaian sasaran, pemilihan rencana, dan pemberlakuan taktik (tindakkan). Pada akhir tahun 1980an, para teoretikus kognitif lain telah mulai mengembangkan model produksi pesan yang dapat digunakan oleh para konstruktivisme untuk menjelaskan proses pemikiran yang menghubungkan struktur kognitif dengan tindakn ujaran. Delia dan teman-temnanya sekarang menganggap urutan (rangaian) mental dasar yang diuraikan oleh para ilmuwan kognitif sebagai garis yang hilang yang menghubungkan kompleksitas mental dengan pesan-pesan yang terpusat kepada orang. Untuk memahami proses pemikiran, kita akan bekerja melalui model produksi pesan sasaran-rencana-tindakan yang diuraikan oleh professor komunikasi Universitas Pennsylvania, James Dillard.
Sasaran
Sasaran-sasaran disebut dasar (primer) karena mereka menggeakkan sekumpulan proses kognitif yan lebih rendah yang terjadi secara parallel dan sejajar dengan seluruh tujuan yang dinyatakan oleh tujuan primer. Pengadopsian berbagai sasaran primer mendesak timbulnya sasaran sekunder. Tujuan tambahan yang tidak kalah pentingnya ini seringkali bertentangan dengan sasaran primer. Burleyson mengatakan bahwa “orang-orang yang memiliki tingkat kompleksitas kognitif interpersonal yang tinggi … cenderung mengembangkan sebuah sasaran yang lebih rumit dan canggih untuk banyak situasi sosial, terutama mereka yang tampak menantang atau menuntut. Jumlah dan keragaman konsep interpersonal juga membekalinya untuk mengembangkan sebuah rencana yang memiliki berbagai segi yang dapat menariknya.
Rencana
Jika kita tahu apa yang kita ingin dicapai oleh respon kita, maka kita merencanakan sebuah rencana pesan dengan mengunakan catatan prosedural yang disimpan dalam ingatan jangka panjang kita. Catatan prosedural adalah pengumpul kembali sebuah situasi tertentu yang dipasangkan dengan konsekuensinya; sebuah ingatan jika-ketika-maka.
Tindakan
Pesan-pesan yang terpusat kepada orang merupakan bentuk komunikasi yang ingin dijelaskan, diprediksikan, dan dipromosikan oleh Delia. Karena orang yang kompleks secara kognitif memiliki persepsi sosial untuk melihat persepsi sosial untuk melihat kebuthan mengejar berbagai sasaran dan keahlian untuk mengembangkan rencana-rencana pesan untuk mencapai mereka, mereka adalah orang-orang beruntung yang dapat berkomunikasi dengan terampil ketika situasi menuntutnya. Kebanyakan orang menganggap konteks komunikasi sebagai sebuah faktor  yang membatasi pilihan seorang pembicara.
·         Efek Manfaat Dari Pesan-Pesan Yang Terpusat Kepada Orang
Pesan-pesan dukungan sosial mencoba meredakan gangguan emosional yang dialami oleh orang lain. Burleson telah mengembangkan skala hirarkis sembilan tahap untuk melambangkan tingkat kenyamanan yang ditawarkan oleh sebuah pesan dukungan. Seperti yang mungkin anda duga, pesan-pesan yang mutakhir biasanya dialami sebagai lebih nyaman daripada upaya-upaya yang janggal pada dukungan sosial.
Pemeliharaan hubungan adalah sebuah proses yang berbeda dari perkembangan hubungan. Hubungan sukarela biasanya dimulai melalui abtraksi bersama, penyingkapan diri, dan pengurangan ketidakpastian. Burleson dan Wendi Samter dari Bryant college mengemukakan bahwa orang-orang yang memiliki keterampilan komunikasi yang mutakhir akan baik dalam mempertahankan persahabatan yang erat.
Untuk menguji hipotesis mereka, Burleson dan Samter meninjau penelitian-penelitian mereka terdahulu tentang persahabatan serta penelitian peneliti lain. Mereka menemukan sebuah pola yang konsisten, yang mereka sebut sebagai model keterampilan yang serupa. Model keterampilan serupa adalah sebuah hipotesis bahwa hubungan berjalan lebih baik ketika pihak-pihak yang terlibat memiliki tingkat kemutakhiran verbal yang sama. Yang mengejutkan, kemampuan individu untuk memberikan dukungan ego, menyelesaikan konflik, dan memberikan kenyamanan pada waktu stress kurang menjamin bahwa hubungan personal mereka yang erat akan bertahan dan tumbuh pesat.


44.      Kritik Teori Konstruktivisme
Delia meluncurkan apa yang ia sebut sebagai teori perbedaan kognitif interpretatif pada konstruktivist tentang pesan-pesan yang terpusat kepada orang jelas memenuhi sasarannya.
Ketika para peneliti bidang kedokteran menemukan pengaruh yang mematikan otak dari racun timah, mereka dengan cepat merencanakan kampanye umum untuk menghentikan cat berbahan dasar timah. Demikian halnya, para guru melobi untuk “Project Head Start” ketika mereka menyadari bahwa makanan untuk perut merupakan sebuah prasyarat makanan untuk pikiran, jelasnya kemiskinan, cat yang mengelupas, dan gizi yang buruk saling berhubungan, dan peneliti konstruktivist menunjukkan bahwa seorang anak yang sama sekali tidak memiliki komunikasi yang merangsang refleksi merupakan bagian dari lingkaran keji yang sama. Konstruktivisme terbuka bagi tuntutan kaum elitisme jika para teoretikus merencanakan sebuah rencana untuk upaya perbaikan yang akan membantu mempersempit kesenjangan antara “yang kaya” dengan “yang miskin”.
Role Category Questionaire (RCQ) tidak sepenuhnya dapat menilai kemampuan    seseorang dalam berkomunikasi, Role Category Questionaire (RCQ) tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan untuk menilai hal tersebut karena di luar sana masih banyak terdapat unsur-unsur lain yang dapat dijadikan untuk memperimbangkan atau menilai kemampuan berkomunikasi seseorang.